Kolom Cerita : Teman Kecil


Assalamualaikum, jadi di postingan ini adalah postingan yang bisa jadi ada karena terinspirasi oleh film yang baru - baru ini aku lihat, film yang sengaja aku tonton entah kenapa tiba - tiba tertarik buat nonton filmnya sekaligus karena kegabutanku juga hehe.. yaudah yuk langsung aja

 


Hari ini aku mengingat akan suatu hal, dihari yang fitri ini, ada banyak kejadian yang terasa tumpang tindih dalam satu waktu secara bersamaan. Semoga atas kejadian yang menimpa siapapun saat ini, kondisi apapun kalian saat ini, semoga masih ada sisi baik yang bisa kita ingat, yang bisa kita syukuri bahkan tidak sedikit, tapi banyak.

Baru - baru ini melihat dan menonton film dan ada satu kata yang sempat terlintas yaitu, "Nostalgia itu mampu menjadi penenang hati dikala kita merasakan stress." 
Bukan ingin membenarkan atau justru menyalahkan, sepintas entah kenapa kata Nostalgia ini seperti sebuah pembuka celah peristiwa dikala kecil dulu. Dikala kecil yang selalu ingin bermain dan bersenang - senang dengan teman - teman, dikala kecil yang selalu bersemangat datang untuk tarawih hanya sekedar ingin bisa berkumpul dan main petasan didekat masjid, dikala kecil yang selalu lupa waktu ketika bermain, dikala kecil yang ingin dan perut lapar, makanan sudah ada dan tersaji dengan lezat, dikala kecil yang merasa tidur adalah sesuatu yang terasa nikmat, dan masih banyak dikala kecil lainnya.

Masa - masa dulu adalah masa yang terkadang sepintas terlintas dan sempat dirindukan tiba - tiba, rindu akan suasana dulu, rindu akan teman - teman masa kecil dulu, yang mungkin semua sudah banyak berubah. Dan kini, diri ini sejatinya tetaplah anak kecil yang dulu, yang selalu terbuka dan tidak berniat mengasingkan diri.

Beruntung adalah ketika teman kecil kalian dulu adalah teman yang tetap sama, bahkan hingga saat ini, teman yang mulai tumbuh dewasa tapi sikap dan jati dirinya tidak pudar dan luntur sama sekali, teman yang akan siap menerima pundakmu dikala kamu lelah, teman yang akan siap menggenggammu ketika kamu jatuh dan teman yang akan siap menegurmu dikala kamu salah.

Semoga temanku dan temanmu selalu diberikan perlindungan yah, semoga pertemanan yang dulu ini akan tetap membekas dan menyengaja untuk bertemu menyisihkan sedikit waktu untuk sekedar bertatap muka, duduk dan membicarakan hal - hal kecil dan impian saat ini maupun kedepannya.

Seharusnya jarak ini tidak menjadi penghalang, seharusnya jarak ini adalah hanya sebuah ukuran, bukan sebuah tembok besar yang bisa begitu menghalangi bahkan menutupi keadaan dimasa sekarang. Semoga bisa sama - sama sadar dan merasakan, karena dipertemukan itu pasti memiliki sebuah alasan, yang entah sebetulnya dari alasan itu akan muncul sebuah jawaban yang sampai saat ini masih dalam masa pencarian.

Setidaknya setelah bercerita seperti ini, ada sedikit rasa tenang yang bisa dirasakan dan ada sedikit memori baik yang diingat dan terkenang untuk saat ini dan bahkan sampai nanti.

Kolom Cerita : Di jam - jam rawan


Disaat kita kebingungan dengan arah dan tujuan kita, disaat kita sudah membangun rencana akan suatu hal, disaat semuanya telah direncanakan dengan matang, disaat ujian demi ujian terasa berat dijalani, disaat perasaan hari demi hari terasa semakin dikuras habis oleh pemikiran – pemikiran negatif yang muncul seketika. Ingin cerita?? Sangat ingin, tetapi ada beberapa orang yang tidak dapat menceritakan sebuah kejadian dengan mudah kepada siapa saja kecuali terhadap orang yang ia percaya mungkin.


Disaat sebagian orang lebih memilih untuk tidak menceritakan apapun dari kejadian – kejadian yang dialaminya, yang selama ini mungkin terpendam oleh dirinya sendiri, karena ada beberapa perasaan takut yang bermunculan, takut bahwa dari ceritaku ini orang tidak mengerti dengan apa yang beberapa orang rasakan, takut bahwa kita hanya akan menambah beban kepada orang lain. Mungkin dari sebagian ketakutan tadi, tidak sebetulnya benar, tidak sebetulnya salah. Ini hanya dari anggapan beberapa orang saja.


Seperti omong kosong ya, entah si ini cuman hasil renungan di jam set 10 yang menulis disertai seringai dan haru tapi sedikit.


Di jam set 10 yang biasanya dilakukan oleh banyak orang adalah tertidur, dengan harapan keesokan harinya jauh akan lebih terisi daya energinya.


Di jam set 10 yang beberapa orang lakukan menonton film/drama favorit ditengah rasa lelah yang melanda.


Di jam set 10 yang mungkin beberapa orang kini sedang saling melempar kabar, berbicara dan bercerita banyak hal akan kejadian yang sudah dialami seharian ini.


Atau kita sebut saja di jam – jam rawan.


Saat itu ada beberapa orang yang mencoba menatap dunianya dengan tatapan hangat, riang, seperti tanpa beban. Tapi gurat wajahnya jelas terlihat bahwa ia kuat dan ia tidak baik – baik saja, ia hanya sedang mencoba memberikan aura atau energi yang positif terhadap lingkungan sekitarnya. Ia hanya ingin dilihat bahwa ia dapat mendengarkan cerita orang dengan baik seperti biasanya.


Ia yang mencoba menahan segala yang ia rasakan, mencoba menahan dikala dalam keadaan kesal, tapi akan ada satu masa dimana semua tidak dapat tertahan lagi seperti biasanya, mungkin bisa jadi itu adalah titik terlelahnya, namun balik lagi bahwa ia tidak bisa menampakkan itu semua.


Sekuat apapun ia menghadapi suatu hal, ia tetaplah ia, seorang manusia yang hidup membutuhkan bantuan dan genggaman orang lain. Mungkin dengan begini akan sedikit membuatnya lebih ringan.


Hanya memegang kepercayaan terhadap hal baik yang pasti datang di akhir, semua yang dirasakan saat ini akan segera lenyap dalam waktu yang dekat dengan hanya selalu berbaik sangka dan juga tetap menikmati segala proses yang sedang dialami. Awalnya memang sulit, namun semua itu akan terbayarkan terhadap hal baik yang pasti datang dihidup kita. Karena gak akan ada kejadian yang terjadi tanpa suatu alasan.


Dengan demikian, apa yang direncanakan di awal itu hanya sebuah rencana yang tersusun atau yang diperoleh dari hasil logika atau mungkin perkiraan diri kita terhadap hal yang bisa terjadi didepan nanti, ya hanya sebuah rencana, tidak ada yang salah dengan rencana, berusaha tetap harus, berdoa tetap harus, namun kembali lagi bahwa ada yang paling tau rencana yang terbaik untuk diri kita, bisa jadi sesuai, bisa jadi tidak.


Dan untuk rasa kekhawatiran yang selama ini sering kali datang, ucapkanlah selamat datang, namun jangan sampai terlalu lama mendekam, cukup berikan senyuman dan mulai berkata dari sekarang bahwa semua akan baik – baik saja, jangan khawatir ya :)

 

Review Jika Kita Tak Pernah Jadi Apa - Apa (Alvi Syahrin)

  Apa yang membuat kamu hari ini khawatir? Akankah harus memikirkannya dari sekarang? Dapatkah kita pikirkan dengan logika sendiri? Segala yang meresahkan, termasuk tujuan masa depan, hanya dapat kita angankan dan harapkan, selebihnya adalah pasrahkan.


JIKA KITA TAK PERNAH JADI APA - APA

Oleh Alvi Syahrin
Penerbit Gagas Media
ISBN : 978-979-780-948-5
Tebal 236 hlm; 13 x 19 cm
Cetakan pertama, 2019

 

Blurb

Jika Kita Tak Pernah Jadi Apa – Apa akan menemanimu selama perjalanan. Buku ini untukmu yang khawatir tentang masa depan Tenang saja. Kau tidak sedang diburu waktu. Bacalah tiap lembarnya dengan penuh kesadaran bahwa hidup adalah tentang sebaik – baiknya berusaha, jatuh lalu bangun lagi, dan tidak berhenti percaya bahwa segala perjuanganmu tidak akan sia – sia. Bukankah sebaiknya apa – apa yang fana tidak selayaknya membuatmu kecewa?


Jika Kita Tak Pernah Jadi Apa – Apa kau melihat teman teman dan mereka sudah mendapatkan impian, sementara kau masih termangu menggenggam harapan. Pelan, dalam hati kau berujar, “Kapan mimpiku terwujud?”


Jika Kita Tak Pernah Jadi Apa – Apa selama perjalanan mencapai tujuan, adakalanya kau melihat sekeliling... menakar jauh jangkauan. Atau, kau malah membandingkannya dengan orang lain. Lalu, lupa melanjutkan perjalanan.


Jika Kita Tak Pernah Jadi Apa – Apa benarkah segala usaha dan upayamu selama ini lebur bersama kecewa yang kau bangun sendiri? Sungguhkah sesuatu yang hanya kau lihat dalam dunia maya menjadikanmu merasa bukan apa – apa?

 

Review

Buku ini merupakan buku Versi ke 2 dari karangan Alvi Syahrin, setelah buku sebelumnya yang berjudul Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta. Namun Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta  dan Jika Kita Tak Pernah Jadi Apa – Apa ini memiliki peran cerita masing – masing dengan versi berbeda. Untuk itu sebelum lanjut membaca review ini, yuk coba kunjungi review Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta dulu di postinganku sebelumnya.


Berbicara masalah mau jadi apa dan siapa, hal ini bisa dibilang merupakan perkara yang mudah. Yup, sangat mudah diucapkan dulu ketika masih kecil. Berbeda dengan kenyataan sekarang, yang mulai memikirkan masa depan, mau jadi apa dan siapa? Setelah cukup dewasa akhirnya banyak mengerti dan belajar bahwa menjadi dewasa itu tidaklah mudah, rasanya terkadang ingin kembali ke masa kecil, banyak banget tuh quotes pake kata – kata begituan hehe..


Tapi memang untuk sebagian besar kasus, dewasa itu adalah proses pembelajaran buat keberlangsungan hidup kita kedepannya untuk menjadikan kita sebagai manusia yang bisa lebih kuat dan tegar untuk menerima adanya sedikit lonjakan dan krikil – krikil kecil yang menghantam kehidupan, dan itu semua gak mudah.


Masalah ini berkaitan banget dengan cita – cita kita sekarang mau jadi apa?? Setelah dipikirkan dengan sangat matang dengan berbagai pemikiran sudut pandang orang yang berbeda – beda dan mungkin bisa jadi ada segelintir orang yang melakukan riset terkait jenis pekerjaan yang bisa menjadi referensi bagi seseorang. Okeh akhirnya salah satu dari teman kita beranggapan bahwa menjadi dokter dan pilot bukanlah cita – cita kita lagi, bahkan mungkin bisa jadi kita tidak memiliki cita – cita terhadap jenis pekerjaan apa yang kita mau dapatkan, karena mengingat bahwa kehidupan ini terlalu realistis.


Ingin menjadi seorang pekerja kantor yang hanya tinggal duduk dan dapat menerima gaji setiap bulannya, terlihat keren dan memiliki penghasilan yang tetap atau ingin menjadi PNS yang mana kehidupannya sangat terjamin oleh pemerintah bahkan sampai dimasa pensiunnya atau memilih untuk menjadi pengusaha, karena kita yang nantinya menjadi bos sendiri tanpa harus menerima tekanan atau mungkin bentakan dari atasan. Kembali lagi bahwa segala sesuatunya memiliki sudut pandang dibalik layar masing – masing yang kita gak tau apa yang sebenernya mereka alami. Kita tidak pernah tau bahwa yang terlihat oleh kita baik – baik saja belum tentu sesuai dengan kenyataan yang ternyata berbanding terbalik dari apa yang kita pikirkan selama ini. Didunia ini tidak ada yang sempurna, untuk itu akan lebih tidak baik lagi jika kita tak pernah jadi apa – apa.


“Memang, menyalahkan keadaan selalu jadi opsi paling mudah dan menyenangkan. Memainkan kartu aku-adalah-korbannya selalu merasa benar dan seru.” (hlm 87)


Jadi pesan dalam salah satu buku ini adalah apapun yang kamu lakukan jalani, syukuri, dan nikmati. Semua punya jalannya masing – masing, tidak perlu mengkhawatirkan yang tidak perlu dikhawatirkan, semua sudah memiliki porsinya masing – masing.


“Mungkin, hari ini, kamu ditolak. Tetapi, nanti, akan ada satu hari spesial. Yang membuatmu bergumam, “oh ini toh hikmahnya.” Lalu, semuanya menjadi terang dan indah. Sabar, butuh waktu.” (hlm 10)


Buku ini memang menceritakan keresahan kita terhadap masa depan yang belum dapat dipastikan. Setidaknya mungkin akan ada sedikit pencerahan jika kalian membaca buku ini. Karena mengingat bahasa yang digunakan juga sangat mudah dipahami dan penulis memberikan gambaran yang related dan terus mengeksplor segala bentuk keresahan – keresahan yang pada umumnya pernah dialami oleh hampir semua orang. Akan ada bagian – bagian dimana kita merasa bahwa saat membaca buku ini kita merasa bahwa kalimat – kalimat tersebut  pantas dan tepat atas penggambaran cerita yang terjadi.


Pokoknya kalo dari pendapat author sendiri, seneng banget bisa membaca ke – 2 bukunya Alvi Syahrin ini, selalu membuat author kembali bersemangat, dikala merasa bingung, bimbang dan khawatir. Author merekomendasikan buku ini, buat kalian yang suka dan seneng sama kalimat – kalimat motivasi, butuh pencerahan dan kurang percaya diri, mungkin buku ini bisa sedikit membantu.


selamat membaca buat kalian :) :)

Terimakasih sudah membaca reviewnya sampai diakhir, semoga suka. komentar dan saran kalian sangat author tunggu :)

Merenung Senja : #Menelisik 2

 Menelisik (2) ini hadir dari postingan sebelumnya, kalian bisa baca diksi Menelisik (1) terlebih dahulu supaya bisa lebih mengerti dan memahami alur yang author buat. Untuk analoginya sendiri sudah dijelaskan dari postingan Menelisik (1) . Semoga terusan dari menelisik ini kalian bisa suka ya..




Kini dari wajahmu
Aku mengerti
Kau yang kadang tertunduk malu
Diam - diam telah mendoakanku

Diam - diam memperhatikanku
Dengan bahu kuat
Yang selalu mengantarku

Kau tahu?
Aku tak pernah memberi ruang
lebih untukmu..

Tapi kamu..
Selalu memberiku pada ruang
Yang tak seutuhnya bisa kubalas

Terimakasih, ternyata..
Kamu bukan sekedar menelisik
Semoga ini dapat bertahan
seutuhnya..


Terimakasih sudah membaca, maaf ya mungkin ini puisi yang terlalu singkat, tapi semoga bisa berkena di diri kalian masing - masing ya.. untuk kelanjutannya mungkin akan author pikirkan kembali, apakah akan ada Menelisik selanjutnya atau tidak. okey sampai jumpa dipostingan selanjutnya, saran dan kritik teman - teman sangat author harapkan. :)

Review Novel : Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta - Alvi Syahrin

 

Halo.. halo gimana hari ini?? Sekarang udah pergantian tahun ya gak kerasa, gimana perjalanan hidup? Ada resolusi ? semangat terus pokoknya ya, berbicara masalah resolusi kayaknya mungkin ada 1 dari sekian banyak orang yang meresolusikan cinta sebagai refleksi diri, entah itu punya harapan buat melepas jomblo ditahun 2021, dilamar di tahun 2021 atau punya rencana menikah mungkin di tahun 2021, kayaknya hidup itu gak pernah terlepas dari yang namanya cinta, bener gak sih?? Mungkin buku ini bisa jadi salah satu bahan yang bisa membantu jawaban tadi, yuk pantengin terus ya..

 

JIKA KITA TAK PERNAH JATUH CINTA


Oleh Alvi Syahrin
Penerbit Gagas Media
ISBN : 978-979-780-934-8
Tebal 224 hlm; 13 x 19 cm
Cetakan pertama, 2018

 Blurb

Jika kita tak pernah jatuh cinta, kita tak akan banyak belajar dari masa lalu. Bagaimana ia mengajari kita untuk tetap kuat ketika hati terserak. Kita tak akan menjadi tangguh.

Jika kita tak pernah jatuh cinta, mungkinkah kita bisa lebih menghargai diri sendiri dengan melepaskan dia yang selalu menyakiti?

Jika kita tak pernah jatuh cinta, akankah kita pernah merasa berharganya waktu bersama dengan seseorang yang kita cinta?

Terkadang, cinta memang sakit dan rumit. Namun bisa pula membuat bahagia dan senyum tidak ada habisnya. Keduanya bersimpangan, tetapi pasti kita rasakan.

Jika kita tak pernah jatuh cinta dituliskan untuk yang pernah merasa terpuruk karena cinta, lalu bangkit lagi disebabkan hal yang sama.


Review

"Iya, kita tak harus selalu mendengar apa yang orang lain katakan, tetapi kau juga tak selalu benar.” (hlm 97)

Buku ini membahas mengenai suatu cerita yang related terhadap kehidupan percintaan yang dijalani saat kita beranjak remaja hingga dewasa, semua itu dilewati dan diceritakan oleh penulis dengan sebaik mungkin yang diceritakan melalui sudut pandang orang ketiga.

 

Jika kita tak pernah jatuh cinta karangan Alvi Syahrin ini merupakan suatu novel pengembangan diri yang cocok dibaca pada saat merasa kesepian atau mungkin memiliki permasalahan cinta, ini bisa jadi salah satu solusinya buat pikiran kita setidaknya lebih sedikit terbuka dan holistik tentunya tapi it’s ok buat yang ngerasa baik – baik aja buat baca buku ini.

 

Dalam buku ini banyak berbagai sudut pandang penceritaan yang bisa kita ambil dan membuat kita merasa menemukan suatu jawaban atas dasar cinta yang kita cari selama ini. Masalah – masalah yang krusial yang kerap banyak ditemukan oleh problem pasangan muda yang memiliki suatu pertautan hubungan.

 

Terlepas dari itu semua, sadar ataupun engga cinta kadang membuat karunia rasa yang kita punya seolah dapat dengan berubah dalam waktu yang singkat, tidak butuh waktu lama, sekejap merasa senang, sekejap lagi merasa sedih, sekejap lagi merasa kesepian, sekejap lagi merasa membutuhkan seseorang untuk mengisi kegalauan yang ada dihatinya. Semua itu dapat terjadi dalam waktu bersamaan. Mencoba bertahan dikala hubungan sudah tidak sehat lagi, merasa hal itu harus diperjuangkan karena sudah terlanjur berjuang dari awal, akan sedih rasanya jika perjuangan itu berakhir dengan kata sia – sia. Akhirnya selalu bertahan dan menguatkan diri sendiri.

 

Tapi apalah daya suatu yang berawal dari salah pasti akan berakhir dengan salah juga, seakan circle perputaran hubungan terus menerus bergerak dalam hal demikian. Merasa jatuh cinta, seakan dunia milik berdua, setelah itu beberapa saat merasa bosan, mencoba untuk menjaga hubungan yang sudah terlanjur lama diperjuangkan, setelah itu merasa ada salah satu pihak yang mulai cuek, kurang perhatian dan akhirnya patah hati, merasa kecewa. Hal demikian karena adanya suatu ekspektasi yang terlalu kita taruh terhadap pasangan.

 

Lalu bagaimana dengan hubungan yang terjalin romantis walaupun sudah bertahan lama, terlihat melalui akun – akun sosial mereka yang memamerkan kemesraan, entah mungkin bisa jadi kehidupan akun sosial mereka sejalan dengan kehidupan real mereka, atau mungkin itu semua hanya yang terlihat sepintas oleh kita yang tanpa tahu kebenarannya.

 

Kadang sepintas merasa bahwa? Kapan aku seperti mereka, memiliki pasangan yang sejalan, yang sefrekuensi, saling memahami dan pengertian? Mengapa aku selalu terjebak kedalam lubang yang sama? Yang jatuhnya selalu berakhir dengan demikian?

 

Jawaban – jawaban itu mungkin bisa kita temukan melalui buku ini, karena jika kita tak pernah jatuh cinta ternyata banyak mengajarkan kita bahwa ada banyak hal didunia ini yang membuat kita kecewa, namun semua itu ternyata mendewasakan, sebagaimana kita bisa mengkontrol hati dan pikiran kita bahwa tanpa pengecewaan mungkin kita tak akan pernah sekuat sekarang, tidak akan pernah merasakan susahnya bangkit dari keterpurukan, tidak akan pernah merasakan rasanya mampu bertahan dikala sulit. Semua itu ternyata bisa kita lakukan dengan kejadian yang terjadi begitu saja didalam hidup kita dan ingat sendiri itu tidak selalu buruk, sendiri itu adalah proses menenangkan, barangkali ingin lebih memantaskan.

 

“Kesendirian membuka mata bahwa pada dasarnya, kita akan selalu sendiri; lahir sendiri, berjuang menyelesaikan masalah sendiri, mati sendiri, dibangkitkan sendiri dengan amalan masing – masing.” (hlm 217)

 

Untuk saat ini, siapapun yang sedang berjuang dijalannya masing – masing dengan pilihan yang kalian buat, ingat bahwa sesuatu didunia ini itu gaada yang sempurna, akan lebih baik jika saling melengkapi suatu kekurangan masing – masing, jatuh cinta itu gak pernah salah, yang salah adalah ketika jatuh cinta membuat porsi hidup kalian berkurang dan hanya berputar terhadap kehidupan cinta yang kalian punya. Karena kita perlu hidup, kita juga perlu teman, kita juga perlu orang tua, maka dari itu kita harus punya porsi kehidupan yang seimbang.

 

Oke buat temen – temen, ini bukan cerita yang berat, ini bisa jadi suatu teman baca kalian yang bikin rileks karena mulai dari segi bahasa yang mudah dipahami, cover yang simple tapi elegan dan bikin penasaran buat baca sampai akhir. Jadi, mudah – mudahan dari reviewku kalian bisa mengerti ya, silahkan tinggalkan jejak komentar jika berkenan dan jangan lupa ikutin reviewku di postingan selanjutnya ya. Terimakasih

 

 

 

 

 

 

 

Semesta : Berpihak di tahun 2021

Haloo.. wah sekarang kita ternyata sudah ada di penghujung tahun 2020, sebentar lagi tahun 2021, waktu ternyata begitu cepet banget ya, baru ngerasain 12 12 kemaren eh sekarang udah mau balik ke bulan Januari lagi, pastinya bakal banyak banget harapan – harapan yang mungkin ada yang temen – temen utarakan langsung atau mungkin diem – diem sekarang jadi tiba – tiba kepikiran, pokoknya apapun pikiran kalian tetap semangat buat wujudin ya, inget jan dipendem terus.. harus memulai aksi dari sekarang.

 


#Semesta : Berpihak di tahun 2021

Sadar atau pun engga, harusnya kita sama - sama saling rasa ya, semesta ini mulai menginjak hari tua, menit, detik dan jam terasa lebih cepat dari biasanya hingga mulai menyambut pergantian tahun baru. perubahan raut wajah, perubahan sifat dan kedewasaan pun sedikit demi sedikit mulai terasa dan semakin bertambah, umur yang terus berkurang dan persiapan yang belum cukup matang dan masih banyak hal lain yang bisa kita renungi bersama. eits tapi ada sesuatu yang besar yang telah diberikan oleh semesta kepada kita. apa aja si??


Semesta itu banyak mengajarkan kita banyak hal dalam kehidupan ini. Kita yang saat ini sendiri, begitu banyak sebenarnya pelajaran yang bisa kita ambil, banyak renungan yang bisa kita sedikit sadari dan renungi. Kesendirian ternyata banyak mengajarkan kita banyak hal, terutama dalam segi pikiran dan kehidupan.


Semesta juga sangat baik dan selalu berpihak kepada kita, disaat kita membutuhkan sesuatu ia cukupkan, di saat kita membutuhkan sandaran ia datangkan teman, disaat kita kesendirian ia hadirkan seseorang yang mengisi kesendirian kita. Lalu dimana letak kita untuk mengabaikan rasa syukur terhadap hal tersebut ?


Ini sama halnya dengan kaitan definisi bahagia itu sendiri? Gimana sih sebenernya arti kebahagiaan buat kehidupan kita? Apakah sebatas kita bisa makan enak? Apakah sebatas kita bisa membeli baju bagus? Atau bertemu dengan teman yang sudah lama tidak bertemu?? Yap itu semua memang sangat membahagiakan tetapi saat kita pulang hal – hal tadi hanyalah menjadi waktu  yang sudah larut dan kalian kini kembali pada kesendirian, sunyi, sepi dan akhirnya memikirkan hal – hal yang sebetulnya kadang tidak kita perlukan sama sekali. Gak semua kesendirian itu tidak membahagiakan kuncinya satu hidup dengan tenang dan bersyukur itu jauh lebih bahagia dari apapun. Yuk, coba sama sama cari untuk membuka kunci ketenangan itu, mungkin lebih dekat dengan semesta itu lebih menenangkan dari apapun.


Dalam hal ini bukan berarti menyalahkan atau melarang untuk bisa menghabiskan banyak waktu diluar atau semacamnya untuk menemukan kebahagiaan itu, tetapi kita harus ingat kepada siapa kita kembali dan ingat dengan batasan yang harus tetap kita jaga.


Dan untuk itu author ingin mengucapkan terimakasih buat kalian dan buat kita semua yang sudah banyak bertahan terhadap guncangan – guncangan kecil di tahun 2020 ini, kita hebat, kita kuat. Semoga ditahun 2021 kita banyak memberikan karya dan terus memperbaiki kualitas diri ya. Oh iya, jangan lupa bahagia juga, kalo lagi gak bahagia dan pengen nangis ya nangis aja, ternyata nangis itu melegakan ko. Gak mengurangi kualitas diri kalian juga :) semangat terus. sampai jumpa di tahun depan :)

 


Review Traveling Aja Dulu! - Olivia Dianina Purba

Halooo.. Assalamualaikum.. jadi gimana hari ini? udah pengen banget liburan atau traveling mungkin?? Udah mulai bosen sama doi apa sama aktivitas sehari – hari? kalau dua-dua nya dan gak bisa juga nih buat pergi kemana - mana dikarenakan kondisi yang tidak memungkinkan atau justru udah terlanjur mageran.. nih author punya solusinya, biar kalian bisa rebahan rasa traveling.. yaitu kalian mesti baca Buku Traveling Aja Dulu! Gimana solutif banget kan? Yaudah coba simak reviewnya dulu aja yuk..

 

TRAVELING AJA DULU!



Oleh Olivia Dianina Purba
Penerbit Gramedia Pustaka Utama
ISBN : 6020433552, 9786020433554
Tebal 256 hlm

 

Blurb

Olivia adalah perempuan Indonesia yang sangat inspiratif!
Buku ini membuktikan bahwa di mana ada kemauan, pasti ada jalan.
Olivia telah membuktikan ia bisa traveling (sebagian besar) gratis ke 35 negara di 5 benua. Tulisannya yang renyah bikin enak dibaca.
Pada akhirnya saya jadi terinspirasi dan saya yakin kalian juga!”

—Trinity, Travel Blogger dan Penulis Buku Seri Perjalanan Terlaris The Naked Traveler

Olivia telah bepergian ke 35 negara di dunia, hampir seluruhnya didanai.
Dalam buku ini, ia akan menceritakan pengalamannya dan tips and trick
seru yang bisa dipraktikkan, baik bagi kamu yang
newbie maupun expert dalam dunia traveling.

Dalam buku ini kamu akan mendapatkan paket lengkap, yakni:

- Alasan-alasan penting untuk traveling
  - Visa, paspor, dan asuransi perjalanan
  - Koper isi minimalis
- Cara mendapatkan sponsor traveling dan kerja sambil kuliah di luar negeri
- Menjalin pertemanan di seluruh dunia
- Berhemat saat travelling
- Cerita traveling yang inspiratif dan informatif

Jadi, tidak masalah kalau bujetmu terbatas dan bukan terlahir dari keluarga kaya raya, masih ada banyak jalan menuju Roma. Tidak percaya? Kalau begitu, buku ini tepat untukmu!


Review

Kalau harus mengingat masalah kondisi ditahun 2020 ini rasanya sedih sih, semua orang diharuskan dirumah, saling jaga satu sama lain. Tapi kita tetap harus bersyukur ya, karena setiap kejadian nih pasti ada hikmah dibalik itu semua dan hikmah yang kita dapat itu sesuai dengan pandangan masing – masing. Bisa dalam bentuk keluarga yang hangat yang bisa kumpul karena harus serba dirumah atau mungkin tetap harus bekerja di kala pandemik. Apapun hal yang kita dapet itu semua terlepas sejauh mana kita bisa bersyukur buat ngelewatin hari  demi hari yang dirasa awal – awal tuh berat banget.

 

Apalagi diberbagai media diberitakan bahwa tempat rekreasi, liburan, restoran semua harus ditutup. Segala fasilitas yang berjenis umum pokoknya dilarang buat beroperasi. Sedih, semua orang ngeluh pengen traveling lah, pengen liburan lah, pengen ketemu emak dikampung lah dan masih banyak pengen – pengen lainnya.

 

Terus apa yang harus kita lakukan? Yang pertama Sabar.. cuman itu yang bisa kita lakuin selain ngeluh, soalnya gak guna juga kalo ngeluh terus – terusan, gaakan ngerubah keadaan juga. Yang kedua adalah mencari kegiatan yang bisa ngalihin fokus kita ke hal tersebut, olahraga mungkin atau terserah deh hobby kalian apa yang penting punya kegiatan. Yang ke tiga nih, jaga diri kalian masing – masing, ini penting yaitu sebagai upaya kita untuk bisa memutus rantai virus yang ada. That’s it!

 

Nah, biasanya nih efek karena udah berbulan – bulan from home terus, pasti pernah punya pikiran buat Traveling dong? Nah buku ini “Traveling Aja Dulu!” bisa banget buat dijadiin sebagai bahan referensi kalian sebelum punya planning buat Traveling.

 

Buku ini milik seorang yang punya hobby Traveling, namanya Olivia. Dia lahir di Sumatra Utara tepatnya di Berastagi. Olivia ini adalah seorang yang bisa dibilang sebagai pemecah dari kalimat “gak ada yang gak mungkin di dunia ini selama kita mau berusaha terus.” Yup, Olivia ini sudah mengunjungi 35 negara atau mungkin lebih sekarang. Dia melakukan itu semua bukan semata – mata karena ia orang kaya yang bisa memanfaatkan uangnya untuk traveling dari satu negara ke negara yang lain tetapi ia punya cara sendiri untuk bisa mewujudkan impiannya berkeliling dunia. Dia memanfaatkan di setiap kesempatan dalam hal pendidikan yang ia punya untuk mengikuti entah seminar, sebagai volunteer, jalur beasiswa untuk bisa berkuliah di negara lain dan masih banyak cara yang Olivia tempuh dan itu bukan suatu hal yang mudah. Ada banyak sekali penolakan, gagal, jatuh dulu buat memperjuangin itu semua dan dirasa sudah terpegang, seolah kegiatan – kegiatan tadi mudah bermunculan dan menjadikan Olivia hidup nomaden di negeri orang.

 

“saya sering menyampaikan ini kepada pengejar beasiswa : hal paling utama dalam mengejar beasiswa adalah keteguhan hati. Penolakan memang menyakitkan dan saya mengerti itu. A human can’t take too much rejection at the same time, tapi saya percaya kegigihan akan menghasilkan buah manis. If it’s for you, it will come to you just at the right time. If it’s not now, it will come sooner or later. But please, just don’t give up! Be persistent!”

 

Dan ternyata Olivia ini lebih sering menghabiskan waktu traveling dengan solo traveling yaitu dia lebih sering berkelana sendiri tapi justru hal itu membuat ia bertemu dengan banyak orang baru yang bisa menambah jejaring koneksi networkingnya.

 

Sebetulnya ada banyak hal yang bisa author pelajari dari aktivitas ka Olivia ini, dengan berbekal pendanaan dari berbagai kegiatan study yang ia ikuti dan hobby traveling ini terutama sering melakukan solo traveling, membuat seseorang harus terbiasa untuk muter otak atau dihadapkan dengan problem solving, mulai dari kendala tempat menginap, koneksi internet, tiket pesawat dan masih banyak lagi. Tapi itu semua bukan menjadi penghalang justru menjadi kunci utama ketika dihadapkan dengan suatu permasalahan akan lebih terbiasa untuk mencari solusi terbaik yang bisa ia dapatkan dan lakukan. Keren banget ini mah..

 

Percaya atau engga ternyata banyak orang baik didunia ini yang bersedia untuk sekedar meminjamkan apartemennya atau memberi penginapan selama masa transisi dari suatu negara. Bagaimana bisa sih percaya gitu aja, sedangkan kita hidup di negara orang istilahnya gitu.

 

“Sebelum mengucapkan selamat tinggal, saya sempat bertanya kepada Simon, how do you know how a trust a person you don’t know? Saya penasaran bagaimana mungkin dia bisa mudah percaya dengan orang asing selama travelling. “You can just tell by the eyes”, Jawabnya singkat.”

 

Jadi dari mata katanya sudah bisa mendeskripsikan kita orang seperti apa, lebih ke insting mungkin ya.. haha

 

Selama perjalanan berkeliling ke beberapa negara ini ka Oliv banyak memberikan gambaran kepada kita terkait tips – tips solo traveling, hal apa saja yang harus dipersiapkan untuk pemberangkatan beserta terkait cara mendapatkan event atau beasiswa ke luar negeri.

 

Selama perjalanan yang ia tempuh, ka Oliv seolah mengajak kepada pembaca untuk hanyut dan ikut merasakan keberadaan dirinya pada saat ada dalam beberapa negara, karena dari segi penceritaannya cukup lengkap mulai dari kehidupan di kota tersebut, tempat wisata yang bisa dijadikan referensi sampai mode transportasi dan gaya hidup dalam masyarakat sekitar. Dari cerita ka Oliv ini aku paling tertarik pada saat ka Oliv berada di Nepal, pada saat ia bercerita bahwa 2 tahun kemudian setelah ia mengunjungi negara tersebut ternyata negara tersebut pernah terkena gempa bumi dengan SR yang cukup besar yang hampir memporak porandakan negara tersebut secara menyeluruh. Asli sih itu bisa jadi sejarah tersendiri buat orang – orang yang pernah mengunjungi negara tersebut, tapi itu kejadiannya udah lama sekitar tahun 2013 kalo gak salah, kalian coba bisa searching di internet kapan gempa besar pernah melanda negara tersebut, karena yang author tahu di negara tersebut menyimpan banyak peninggalan kebudayaan hindu – budha dan kebudayaannya kental banget katanya sih begitu.. hehe

 

Jadi, kemauan dan tekat itu ternyata bisa mengatasi masalah keterbatasan selama kita mau berusaha dan berjuang terus, gak peduli apapun yang menjadi penghalangmu, terus fokus, hal yang gak mungkin ternyata bisa menjadi mungkin dan kita belajar bahwa Traveling bukan hanya untuk sekedar senang – senang tapi bisa menjadi motivasi kita buat terus semangat belajar, mempelajari hal baru dan bertemu dengan orang – orang baru.

 

Buat kalian nih yang mau otw baca bukunya, bisa juga mengunjungi atau intip – intip tulisan ka Oliv di www.travelingajadulu.com disana kalian bisa menemukan cerita versi yang lebih lengkapnya serta bebagai tips yang bisa di sharing ke temen – temen semua. Happy reading.. dadah :)

Terimakasih sudah membaca reviewnya sampai diakhir, semoga suka. komentar dan saran kalian sangat author tunggu :)